Tentang Perempuan dan Penantian

Ini adalah tentang bumi yang tak pernah berhenti berputar
Ini adalah tentang denyut nadi yang tak pernah berhenti berdetak
Ini adalah tentang darah yang tak pernah berhenti mengalir
Ini adalah tentang langkah kaki yang pernah lelah melangkah

Ini adalah tentang mata yang terus memandang, telinga yang terus mendengar, hati yang terus merasakan

Namun ini adalah tentang jiwa yang tak pernah tersentuh

Disana, kulihat seorang perempuan tak pernah berhenti mencari kekasihnya..

Sampai akhirnya nadinya melemah, darahnya lambat mengalir, langkahnya mulai gontai..
Tubuhnya pun menua
Dia kemudian mati

Ini adalah tentang perempuan yang terus mencari kesempurnaan

Lalu berucap kekasihnya, dia bisikkan ditelinganya perempuan itu: "Aku selalu disampingmu, namun kau tak pernah menoleh.. sayang mengapa kau terus mencariku?"

Perempuan: "Kalau saja ditengah perjalananku aku menyadari bahwa kau yang selalu disampingku mungkin aku akan berhenti mencari lalu kita akan menua dan mati bersama."


Beta Pertiwi | 'April 2012

being 21



21 tahun adalah tentang sebuah perjalanan, move on dari satu titik ke titik yang lain. Beradaptasi dengan suasana baru di satu titik dan titik lainnya. Membaur yang bukan berarti menyamakan diri. Tapi menjadi diterima dengan perbedaan yang saya miliki.

21 tahun adalah mengenai banyak keputusan keputusan. Keputusan untuk diam. Keputusan untuk tuli. Keputusan untuk buta. Dan segala tetek bengeknya. Termasuk keputusan untuk melepas atau menggapai.

21 tahun adalah bukan lagi mengenai berontak dan meronta. Melainkan menerima dan menjalani. Berhenti mengeluh dan menikmati.

21 tahun adalah tentang sebuah kematangan sikap. Kematangan konsep hidup. Tidak sekedar memproklamirkan: Hai saya sudah dewasa! Itu kekanakan.

21 tahun adalah saatnya berhenti berfikir melalui landasan ideal. Idealnya begini.. idealnya begitu. Saya keluar dari kotak pikiran ideal. Saya memilih jalan saya sendiri.

21 tahun adalah bukan lagi tentang menikmati umur muda melainkan tentang memperjuangkannya. Menuju pintu gerbang hidup yang sesungguhnya.

21 tahun adalah saatnya belajar, Ohh begini toh hidup susah? Ternyata memang susah. Tapi berhenti melihat keatas kemudian melihat ke bawah. Dan kembali bilang, Eh ternyata saya masih lebih beruntung :)

21 tahun adalah tentang mencoba membebaskan diri dari ketergantungan pada orangtua. Meskipun mencoba dari hal yang amat sepele. Meminimalisasi ‘meminta’. Kemudian berusaha agar segera cepat menjadi sarjana dan bekerja.

21 tahun adalah mungkin salah satu perjalannya adalah untuk.. menemukanmu, kita nikmati saja prosesnya.

21 tahun adalah tentang menjadi lebih bijaksana..

21 tahun adalah saatnya saya teriakkan: I gotta be independent! I gotta show the power!

Yin dan Yang


Ini tidak semudah apa yang orang bayangkan. Bertahan dalam tekanan-tekanan. Ya, aku hanya tidak menampakkan itu. tapi aku juga bisa bilang ini tidak sesulit yang orang bayangkan, karena bersamaan dengan bertubi tekanan itu datang aku mulai bisa bersahabat dengan mereka.

Tidak ada yang benar-benar bisa memahami serta mengerti apa yang kita rasakan. Untuk itu aku  masih kekeuh untuk bertahan sendiri (termasuk tanpa kehadiran partner).

Aku masih belum merasa perlu untuk membagi sampai pada akar masalahnya karena aku yakin aku masih sanggup. Kadangkala aku terfikir untuk membagi, tapi ketika hal itu aku lakukan aku justru tampak begitu lemah dan rapuh, aku justru mudah jatuh dan manja pada pelukan mereka. Kemudian akhirnya aku memilih menatap nanar diriku sendiri ke dalam cermin, berdialog dengan sang penjaga diriku. Kata orang, masing-masing dari kita memiliku satu sosok yang menjaga diri kita. Aku percaya. Sosok itu adalah penyeimbang diriku.  Bagaikan yin dan yang. Namun keduanya adalah satu dalam diriku. Saling menguatkan. Tidak terpisahkan.



Dalam diamku ini aku menyimpan banyak rahasia. Diam adalah metode paling ampuh memanipulasi masalah buatku. Awalnya tersenyum saja pahit rasanya. Harus dipaksa. Tapi lama-lama aku biasa.

Bukan, bukan bersandiwara. Bukan pula bermuka dua. Aku hanya membiarkan diriku jatuh dan belajar menikmati susah payahnya sendirian..  akh, bagi yang belum pernah merasakan atau (sesungguhnya) tidak membiasakan diri merasakan. Barangkali mereka tidak pernah tau. Ada sensasi luar biasa ketika kita bisa tersenyum bersamaan dengan rasa sakit, sedih, kecewa. Tertawa bersamaan dengan tangis.

Aku masih ingat, di salah satu sosial media yang tidak pernah aku publikasikan (karna memang disana adalah tempat sampahku yang sebenar-benarnya hehehe) aku mengatakan hal yang amat 'keras' dan mulai detik itu sahabatku tak pernah lagi menanyakan aku ada masalah apa kecuali aku memang memilih untuk bicara, tapi aku jarang sekali melakukannya. Hal itu aku yakini adalah bentuk pengertiannya terhadapku dan walaupun begitu aku tau jauh disana sahabatku sedikit mengerti apa yang terjadi padaku.

Kalau ada orang yang beranggapan aku sombong karena merasa bisa menyelesaikan masalah sendiri, mereka salah. Salah pengertian. Toh, pada kenyataannya aku masih sering sekali merepotkan orang lain. 'Masalah' dalam kutipan hal yang amat sentimentil dalam dirimu yang sulit dijangkau oleh orang lain. Ya. Begitu. Dan jangan dipikir aku tidak butuh penopang, aku butuh.. sangat butuh.. tapi penopang yang tidak akan membuatku justru terlihat lemah dan manja dan satu-satunya sosok sempurna untuk itu adalah Allah SWT.